MENOLONG ORANG YANG BARU MENGALAMI TRAUMA

 

  1. Apa itu Trauma?
  • Sesuatu yang membuat anda menyadari bahwa anda bisa saja mati – Sesuatu yang membuat anda merasa tak berdaya, tak tertolong dan lumpuh.
  • Sesuatu yang terjadi tiba-tiba dan tak teratasi. 
  • Suatu saat di mana anda mengalami sesuatu takut yang luar biasa, walau mungkin hanya sebentar. 
  • Suatu saat di mana anda tidak dapat berpikir dengan jelas. Kadang seseorang hanya bisa bertindak langsung, tanpa berpikir.
  • Bukan sekedar stres. Stres tidak terjadi tiba-tiba dan tidak mengancam hidup seseorang   seperti yang ditimbulkan oleh trauma.
  • Sebuah kejutan bagi sistem tubuh, akibatnya mempengaruhi seluruh sistem tubuh dan mengakibatkan keadaan yang darurat.

 

2.Persiapan untuk menolong orang yang telah mengalami trauma

 

A. Pengaturan waktu

  • Saat yang terbaik untuk memulai adalah sesegera mungkin sesudah krisis itu berakhir. Pertolongan itu harus dimulai tidak lebih dari 72 jam sesudah trauma.

 

B. Pembicaraan

  • Orang yang mengalami peristiwa trauma membutuhkan dorongan untuk berbicara dan mendapatkan seseorang yang mau mendengarkan secara aktif dan penuh pengertian, tetapi tidak menghakimi.
  • Jangan terkejut bila orang sering menjadi bingung,  berbicara  dengan cepat, emosional, atau bahkan melampiaskan kemarahan kepada anda, yang menjadi penasehat mereka.

 

C. Kebersamaan

  • Setiap orang yang mengalami trauma sebaiknya berkumpul dalam sebuah kelompok yang dapat saling mendukung dan menguatkan supaya dapat mengungkap kenyataan yang terjadi dan dapat memberikan bantuan yang saling membangun.

 

D. Jangka waktu

  • Pemulihan trauma membutuhkan waktu.
  • Jangan berharap bahwa pertemuan dengan semua orang yang mengalami trauma tersebut akan langsung memulihkan mereka. Masing-masing orang membutuhkan waktu untuk berbicara. Tunjukkan kasih, penerimaan, dan kesabaran.



E. Perhatikan diri anda sendiri

  • Penasehat seringkali menjadi trauma juga sesudah mendengar kisah-kisah mereka yang trauma.
  1. Carilah seorang teman yang dapat dipercaya, dimana anda dapat membagi perasaan dan gejala-gejala yang mungkin anda alami.
  2. Beristirahat dan tidurlah dengan baik.
  3. Lakukan kegiatan yang anda nikmati dan membuat anda merasa santai.
  4. Buatlah waktu teduh bagi jiwa, fisik dan kesegaran emosi anda.

 

3. Tahap-tahap dalam menolong orang yang trauma

 

Ketika anda mengumpulkan semua orang yang terlibat dalam trauma, pimpinlah mereka menjalani ketujuh tahap berikut ini. 

 

A. Tahap Perkenalan.

  • Tujuan dari tahap ini adalah untuk menjelaskan tujuan pertemuan bersama ini.
  • Ingatkan setiap peserta untuk tidak menghakimi satu sama lain.
  • Mintalah mereka berjanji untuk tidak akan membagikan dengan orang lain apa yang didiskusikan dalam pertemuan ini. Setiap orang membutuhkan kesempatan untuk membagikan perasaan mereka dengan bebas dan tahu bahwa orang lain tidak akan menggosipkannya.
  • Jelaskan bahwa masing-masing orang akan mendapat kesempatan untuk membagi, jadi sangat penting untuk tidak memotong pembicaraan orang lain.

 

B. Tahap Kenyataan/fakta-fakta (kronologis)

  • Tujuan dari tahap ini adalah mengerti apa yang sesungguhnya telah terjadi.
  • Mintalah masing-masing orang untuk menjelaskan menurut pikiran mereka tentang apa yang telah terjadi dan apa peranan mereka dalam kejadian trauma itu. (Dalam tahap ini kita mengharapkan orang akan mengungkapkan kenyataan dan bukan perasaan mereka. Dalam tahap yang lain mereka akan mengutarakan perasaan mereka.)  
  • Mintalah masing-masing orang untuk menjelaskan apa yang telah mereka lakukan dan tidak lakukan ketika trauma itu terjadi.

 

C. Tahap Pemikiran dan Perasaan

  • Tujuan dari tahap ini adalah berpindah dari fakta-fakta yang ada kepada diri pribadi.
  • Masing-masing orang menjelaskan apa pikiran pertamanya sesudah dia berhenti bertindak yang secara otomatis.
  • Pikiran-pikiran akan mengalir ke dalam perasaan, sehingga waktu orang yang dinasehati membicarakan pikiran mereka tentang peristiwa trauma itu, doronglah juga mereka membagikan perasaan mereka (yang sekaligus membawa kita ke tahap selanjutnya).

 

D. Tahap Reaksi 

  • Tujuan tahap ini adalah berpindah dari pikiran-pikiran tentang trauma menjadi  perasaan-perasaan tentang trauma.
  • Mintalah masing-masing orang untuk menggali reaksi-reaksi terhadap trauma itu. Pertanyaan-pertanyaan berikut dapat membantu: 
    • Apa yang selalu datang dalam pikiran anda mengenai apa yang telah terjadi? 
    • Bagian mana yang paling sulit/buruk bagi anda?
  • Sangat penting sebagai seorang penasehat, kita memastikan atau mengatakan ulang apa yang disampaikan oleh setiap orang.
  • Apa yang saudara pelajari tentang diri sendiri melalui trauma ini?
  • Apa tanggapan/tindakan positif yang saudara lakukan dalam peristiwa trauma tersebut?
  • Bercerita bagaimana Allah membantu saudara dalam peristiwa trauma tersebut.

 

E. Tahap Gejala-gejala

  • Tujuan tahap ini untuk menolong orang yang sedang dinasehati mengerti bagaimana trauma telah dan masih terus mempengaruhi mereka.
  • Mintalah masing-masing orang untuk menggambarkan gejala-gejala / tanda-tanda emosi yang mereka alami selama dan sesudah kejadian itu.
  • Gejala-gejala apa saja yang masih mereka alami?

 

F. Tahap Pengajaran

  • Tujuan tahap ini untuk menolong orang yang sedang dinasehati apa yang sebenarnya normal dan apa yang tidak normal, untuk menolong mereka mengerti apa yang seharusnya mereka harapkan di masa depan dan bagaimana terus melanjutkan proses pemulihan.
  • Bila ada orang yang telah terluka, penting sekali untuk membawanya ke dokter.
  • Jelaskan reaksi-reaksi berikut yang normal dalam trauma: Merasa sangat kaget, kuatir, menyangkal sesuatu, merasa bersalah, marah, malu, susah tidur, gugup, mudah menangis, gemetar, merasa tertekan, dan murung.
  • Jelaskan bahwa masing-masing orang adalah unik, sehingga reaksi orang bisa berbeda-beda.
  • Penyembuhan membutuhkan waktu, tetapi bila anda tekun, semua perasaan-perasaan ini akan teratasi.
  • Jangan membanding-bandingkan diri anda dengan orang lain. Tidak ada orang yang sama. 
  • Penting sekali untuk berbicara tentang kejadian yang terjadi sesering yang dibutuhkan.
  • Sediakan waktu lebih untuk berdoa dan membaca Firman Tuhan. Pasal-pasal Kitab Zabur berikut mungkin dapat menolong: 6, 11, 13, 17, 22, 23, 27, 31, 42, 44, 46, 55, 56, 57, 62, 66, 69, 70, 77, 88, 91, 102, 107, 116, 118, 121, 130, 139, 142, 143, 146.

Ambil waktu untuk beristirahat.

  • Bantu orang yang sedang dinasehati mengerti berbagai perasaan kehilangan yang telah mereka alami akibat trauma itu:
    • Kehilangan KENDALI atas hidup mereka sendiri
    • Kehilangan KEPERCAYAAN pada Tuhan dan orang lain 
    • Kehilangan rasa KEADILAN
    • Kehilangan sesuatu yang PENTING BAGI PRIBADI (harta milik, diri sendiri, atau orang yang disayangi)
    • Kehilangan PERCAYA DIRI
    • Kehilangan MASA DEPAN

 

  • Trauma mungkin saja membuat seseorang merasa kekanak-kanakan; mereka ingin diperlakukan sebagaimana seorang anak atau seseorang selalu menjaga mereka. Mereka kehilangan kepercayaan diri untuk mampu mengurus diri mereka sendiri.
  • Usulkan cara-cara bagaimana menghadapi stres.

 

G. Tahap Tindak Lanjut

  • Tujuan tahap ini untuk mengakhiri pertemuan itu.
  • Simpulkan apa yang telah dibagikan.
  • Jawab pertanyaan-pertanyaan.
  • Buat rencana untuk pertemuan tindak lanjut, bila masih dibutuhkan.
  • Sarankan orang-orang untuk terus menuliskan pikiran dan perasan mereka dalam  sebuah buku harian.
  • Jangan mengunjungi tempat yang telah membuat mereka trauma kecuali bila mereka telah siap. 

 

Pembahasan/Penerapan

 

Pikirkan trauma yang pernah Saudara alami. Dengan teman, mengikuti tahap-tahap dibawah ini.  Satu orang bermain peran sebagai penasehat/pendengar dan orang lain bercerita tentang peristiwa trauma yang dialami.

 

A. Tahap Perkenalan

  • Penasehat menjelaskan bahwa tujuannya ialah memproses trauma.
  • Penasehat menciptakan suasana aman untuk membagikan trauma dan berjanji untuk tidak menghakimi atau menggosip tentang peristiwa trauma.

 

B. Tahap Kenyataan

  • Jelaskanlah dengan seksama apa yang terjadi dalam peristiwa trauma tersebut dalam urutannya (dari awal sampai akhirnya).  

 

C. Tahap Pemikiran

  • Apa pemikiran pertama setelah panik berhenti? Dengan kata lain, apa masuk ke dalam pikiran setelah bisa tenang?
  • Apa perasaan yang dirasakan saat itu?

 

D. Tahap Reaksi 

  • Kalau memikirkan peristiwa trauma itu, apa yang tidak dapat dilupakan?
  • Apa yang paling buruk dari peristiwa itu?

 

E. Tahap Gejala-gejala

  • Apa gejala-gejala yang dialami  baru sesudah peristiwa trauma itu?
  • Apa gejala-gejala yang dialami  sekarang?

 

F. Tahap Pengajaran

  • Penasehat mengulangi catatan Tahap Pengajaran dan menjelaskan apa saja yang perlu disampaikan. 

 

G. Tahap Tindak Lanjut

  • Penasehat memberi kesimpulan tentang apa yang dibagikan.
  • Penasehat mengulangi saran-saran untuk mengurangi gejala-gejala yang masih dirasakan.