Tolong! Saya Tidak Bisa Menghilangkan Rasa Aib Saya
Catatan: Ini adalah kisah nyata tentang luka batin, pemulihan, dan kasih Allah, yang diceritakan secara penuh dengan sensitivitas dan empati.
Inne mendengar ketukan di pintu dan menemukan Eka berdiri di ambang. Eka, pelanggan lamanya, datang mengenakan kaus ketat dan jins biru. Inne menyambutnya hangat dan mengajaknya ke dapur tempat ia sedang menyiapkan makanan.
Di dapur yang sederhana, mereka mulai berbicara. Eka bercerita tentang kesulitannya dalam kuliah, latar belakang keluarga yang berantakan, pengalaman masa kecil penuh penderitaan, hingga pelecehan yang dialaminya dari seorang polisi saat ia baru berusia 14 tahun.
Eka menangis tak terkendali, meringkuk di lantai. Inne memeluknya dan berkata, “Tidak apa-apa. Menangislah sepuasmu.” Setelah tenang, Eka berkata, “Saya sudah memikul beban itu terlalu lama. Aku ingin bebas.”
Kasih dan Pemulihan dari Allah
Inne lalu menceritakan kisah penciptaan, kejatuhan manusia dalam dosa, dan bagaimana Allah dalam kasih-Nya mengutus Isa Al Masih untuk menyelamatkan manusia dari dosa, rasa malu, dan kematian.
“Isa tidak pernah melakukan dosa, jadi Dia adalah Yang Tanpa Cela. Seperti lap bersih membersihkan kotoran dari piring, Isa menanggung kecemaran kita ketika Dia mati di kayu salib. Saat Dia bangkit, Dia meninggalkan kecemaran itu di kubur.”
“Allah sedang berkata kepadamu, ‘Aku ingin membuatmu bersih selamanya. Aku ingin memulihkan hubungan kita. Aku ingin berbagi kehormatan-Ku denganmu.’”
Inne menjelaskan bahwa Isa adalah terang dunia yang dapat mengusir kegelapan, termasuk rasa malu, aib, dan rasa bersalah. Isa bukan hanya penebus, tetapi juga penyembuh batin yang membawa pemulihan total.
Respons Eka
Wajah Eka bersinar. “Saya selalu merasa kotor, bernoda, dan cemar. Saya tidak pernah merasa layak mendapat kasih dan pertolongan Allah. Jika kisah ini benar, saya ingin belajar tentang Isa Al Masih.”