Bagaimana Dosa Saya Dapat Diampuni?

 

Nama saya, Yunus. Bolehkah saya bercerita sedikit tentang kehidupan saya?

Saya lahir dan dibesarkan di desa ___. Ayah saya petani, kami empat bersaudara dan saya anak kedua. Waktu kecil saya rajin mengikuti pengajian. Setiap sore saya diajari oleh Imam Achmed. Karena saya rajin menghafal ayat-ayat Al-Quran dan salat, saya menjadi murid yang paling rajin. Tetapi, saat berpuasa atau salat saya merasa kosong — semakin rajin, hati saya semakin hampa.

Saat saya berusia sembilan tahun, kakak saya sakit parah. Kami meminta ustaz untuk mendoakan, tapi tidak berhasil. Kami juga membawa ke dukun, tetapi keadaannya memburuk. Saya berdoa, tapi merasa Allah jauh. Akhirnya, kakak saya meninggal dunia. Saya sangat sedih dan mulai merasa takut akan kematian dan penghakiman akhirat.

Saya juga takut pada roh-roh jahat. Pernah ada orang kerasukan di desa kami. Suaranya mengerikan. Saya selalu menghindar.

Suatu malam, saat bulan dan bintang sangat terang, saya berjalan-jalan untuk menenangkan pikiran. Saya berpikir, “Allah pasti menciptakan semua ini. Tapi siapa saya? Mengapa saya diciptakan? Apa arti hidup saya?” Saya pulang, tapi hati saya masih bingung.

Saya jatuh cinta dengan Si Nur dan kami menikah. Tapi setelah anak pertama lahir, kami sering bertengkar. Saya menjadi cepat marah. Suatu saat, saya berbisnis dengan teman. Saya serahkan semua uang — termasuk tabungan sunatan anak — tapi dia menghilang. Saya sangat marah, membenci dia, dan ingin balas dendam. Kepahitan membuat saya sakit mah. Saya tak bisa menghapus dendam itu.

Setelah tragedi bom Bali, saya ngeri mendengar pelakunya adalah orang Islam. Saya kecewa dan mulai mempertanyakan banyak hal.

Suatu malam, saya bermimpi bertemu nabi berjubah putih. Dia tidak menyebut namanya, tapi saya tahu Dia adalah Isa Al Masih. Dia berkata, “Akulah jalan yang lurus, ikutilah Aku.”

Saya kemudian menonton film tentang Isa Al Masih. Saya kagum karena Dia berbicara dalam bahasa saya. Saya melihat mujizat dan ajaran-Nya. Saya juga mengamati tetangga saya, Pak Saleh, yang sungguh-sungguh mengikuti Isa. Ia jujur, damai, dan penuh sukacita.

Saya meminjam Injil dari Pak Saleh dan mulai membacanya. Isinya menyentuh hati saya, seolah Allah berbicara langsung kepada saya.

Ketika anak teman saya sakit, saya mengajak mereka ke Pak Saleh. Dia menceritakan kisah Isa menyembuhkan orang lumpuh dan berkata, “Supaya kalian tahu Aku berkuasa mengampuni dosa — bangkitlah dan berjalanlah.” Lalu, anak itu disembuhkan.

Saya juga mulai mendengar lagu-lagu pujian kepada Allah melalui Isa dan merasakan damai.

Akhirnya, saya menceritakan semua keluhan saya kepada Pak Saleh — tentang teman yang menipu, kebencian, dendam. Ia menjelaskan bahwa manusia tidak bisa mengampuni dengan kekuatannya sendiri, tapi Allah bisa memberi kekuatan itu.

Pak Saleh berkata: “Adam dan Hawa berdosa dan terpisah dari Allah. Dalam Taurat dan Zabur, para nabi mempersembahkan korban — karena tanpa penumpahan darah, tidak ada pengampunan dosa. Tapi darah binatang tidak cukup. Maka Allah mengutus Isa Al Masih. Dia hidup sempurna dan mati di kayu salib, lalu bangkit pada hari ketiga. Karena darah-Nya, dosa manusia dapat diampuni.”

Saya bertanya, “Bagaimana dosa saya bisa diampuni?”

Pak Saleh menjawab, “Dalam doa, akui dosamu dan mintalah pengampunan dari Isa.” Lalu kami berdoa bersama:

“Ya Allah yang Maha pengasih dan penyayang, saya pernah membenci orang dan keluar kata-kata makian kepada istriku. Saya percaya bahwa Isa Al Masih datang ke dunia ini dan tidak berbuat dosa. Dia rela menumpahkan darah-Nya di kayu palang untuk saya. Saya mengakui dosa-dosa saya dan mohon pengampunan. Saya mohon darah Isa menyucikan saya dari semua dosa. Saya menyerahkan hidup saya kepada-Mu. Di dalam Isa Al Masih aku berdoa. Amin.”

Setelah itu, saya sering bertemu Pak Saleh. Ia membagikan ayat-ayat untuk membantu saya mengampuni dan membangun hubungan yang lebih baik dengan istri saya.

Sekarang saya tidak lagi takut mati atau roh jahat. Saya punya arti hidup dan tahu Allah mengasihi saya. Ekonomi saya memang turun, tetapi hati saya penuh damai karena saya tahu Tuhan akan menolong saya pada waktu dan cara-Nya.