Bebas dari Aib, Ketakutan, dan Rasa Bersalah
“Ibu tidak tahu apa yang terjadi pada saya,” kata Eka. “Saya cemar dan penuh dengan aib. Saya tidak layak dikasihi dan diampuni.”
“Izinkan saya memberitahumu sebuah cerita tentang kasih dan rahmat Allah,” balas Inne.
“Semua kemuliaan dan kehormatan datang dari Allah. Pada awalnya, Dia menciptakan Firdaus, sebuah taman yang megah dan indah untuk mencerminkan kemuliaan dan kehormatan-Nya. Taman ini, yang Dia namakan Eden, sangat sempurna, tanpa penyakit atau kematian. Sewaktu menciptakan Adam dan Hawa, Allah memahkotai mereka dengan kemuliaan dan hormat, dan memberi mereka tanggung jawab untuk mengelola taman itu. Adam dan Hawa bahkan menikmati persekutuan yang manis dan komunikasi yang erat dengan Allah. Dia adalah Pencipta tetapi mempedulikan dan memelihara mereka seperti seorang Bapa dan menganggap mereka seperti anak-anak-Nya. Mereka telanjang tetapi tidak malu karena dosa belum memasuki dunia mereka.
Setan memasuki tubuh seekor ular dan menipu Hawa agar dia makan buah Khuldi, pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Allah telah melarang mereka memakan buah pohon itu. Hawa memberi sebagian buah itu kepada Adam, yang juga memakannya. Segera mata mereka terbuka, dan mereka menyadari bahwa mereka telanjang. Mereka merangkai daun-daun pohon ara untuk menutupi aurat mereka.
Kemudian Allah memanggil mereka, tetapi Adam dan Hawa bersembunyi karena takut dan malu di hadapan Allah yang suci. Sebagai hukumannya, Allah mengusir mereka keluar dari taman; tetapi dengan penuh rahmat, Allah memakaikan kepada mereka pakaian dari kulit binatang.”
“Mari kita berpikir sejenak tentang apa yang terjadi.” Inne melirik Eka untuk melihat apakah ia mendengarkan percakapan.
“Karena satu dosa, Adam dan Hawa telah cemar dan jauh dari Allah. Mereka diusir dari taman. Kehormatan dan hak istimewa yang sangat mulia untuk berjalan dengan Allah dan berbicara dengan-Nya secara langsung telah hilang untuk selamanya. Apa yang bisa lebih memalukan daripada itu?
Semua orang sepanjang sejarah telah cemar karena dosa mereka. Kemudian Allah mengutus Isa Al Masih yang lahir dari seorang perawan. Isa menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, membangkitkan orang mati, dan mengajarkan Siratul Mustaqim, Jalan yang Lurus, dari Allah. Dalam seluruh hidupnya Dia tidak melakukan satu dosa pun, jadi hidupnya membawa kehormatan dan kemuliaan bagi Allah. Namun musuh-musuh Isa menangkap-Nya, menelanjangi-Nya, memukuli Dia tanpa ampun, dan kemudian membunuh-Nya dengan memaku-Nya di kayu salib. Apa yang bisa lebih memalukan daripada ditertawakan oleh para musuh, ditolak oleh para sahabat, dan kemudian mati telanjang di kayu salib?”
Eka bergidik, dan mengangguk setuju.
“Kamu mungkin berpikir, ‘Isa adalah seorang nabi Allah yang Maha Kuasa. Mengapa Allah mengizinkan Dia mati dengan cara yang memalukan?’ Jika itu adalah akhir dari kisah-Nya maka kita bisa menyebutnya sebagai sebuah tragedi mengerikan, tetapi cerita tidak berakhir di situ. Tubuh Isa diturunkan dari kayu salib dan diletakkan di dalam kubur. Tiga hari kemudian, Dia bangkit kembali untuk hidup. Rasa malu kematian Isa ditutupi oleh kemuliaan kebangkitan-Nya!”
Eka tampak bingung. “Apa kaitan hal ini dengan saya?”
“Bagaimana seseorang bisa menyingkirkan kecemaran?” tanya Inne.
“Saya tidak tahu.”
“Apa kamu membersihkan piring kotor dengan lap bersih atau kotor?”
“Yang bersih, tentu saja.” Eka tertawa ketika membayangkan seseorang membersihkan piring kotor dengan lap kotor.
“Itulah sebenarnya yang dilakukan oleh Isa. Dosa menyebabkan kecemaran, dan karena semua orang berdosa, semua orang najis. Isa adalah Yang Tidak Cemar yang menanggung segala kecemaran kita untuk menyucikan dan membuat kita layak di hadapan Allah. Apakah kamu mengerti?”
“Maaf, belum.”
“Isa tidak pernah melakukan dosa, jadi Dia adalah Yang Tanpa Cela. Seperti lap bersih yang membersihkan kotoran dari piring, Isa menanggung kecemaran kita ketika Dia mati di kayu salib. Ketika Dia bangkit dari kubur, Dia meninggalkan kecemaran kita di dalam kubur. Allah menghendaki cara ini. Karena Isa benar-benar setia dan taat bahkan sampai mati, Allah telah memahkotai-Nya dengan kemuliaan dan hormat. Injil mengatakan ‘Isa tabah memikul salib tanpa mempedulikan rasa malu, dan kini Dia duduk di sebelah kanan arasy Allah.’ Pada salib, Isa menanggung aib kita; dalam kebangkitan, Dia mematahkan kuasa aib itu. Kemuliaan Allah ditinggikan, dan kehormatan-Nya terbukti benar!
Meskipun kita telah melakukan semua amal terbaik dan semua upacara keagamaan kita, namun kita tidak bisa menghapuskan kecemaran dari diri kita sendiri sama seperti kegelapan tidak dapat membuat dirinya menjadi terang. Hanya terang yang dapat mengusir kegelapan. Itulah sebabnya Isa disebut ‘terang dunia.’
Ingat tidak ketika saya mengatakan bahwa Adam dan Hawa diusir dari taman? Itu seperti mereka diusir dari keluarga Allah.”
Eka mengangguk.
“Apa yang terjadi ketika seorang anak melakukan sesuatu yang memalukan dan terasing dari orang tuanya? Sering dibutuhkan seorang perantara/penengah untuk mendamaikan anak itu dengan orang tuanya. Sama seperti itu, Isa adalah perantara yang mendamaikan kita dengan Allah.
Isa juga adalah kurban yang sempurna. Ingat kita belajar bahwa semua nabi mempersembahkan kurban kecuali satu: Isa tidak pernah mempersembahkan kurban karena Dia yang menjadi kurban! Allah tidak menuntut amal baik, Dia menuntut penumpahan darah untuk pengampunan dosa. Mengapa darah? Karena nyawa setiap makhluk ada dalam darahnya. Hanya Isa yang tidak pernah melakukan dosa, jadi hanya darah Isa yang murni dan suci itulah yang mampu menyucikan manusia dari dosa-dosanya.
Isa tidak hanya menyucikan kita dari kecemaran, ketika Ia bangkit dari antara orang mati Dia juga mengalahkan musuh terbesar, yaitu kematian. Isa mengalahkan dosa, rasa malu, dan kematian.
Allah sedang berkata kepadamu, ‘Aku ingin membuatmu bersih selamanya. Aku ingin memulihkan hubungan kita. Aku ingin berbagi kehormatan-Ku denganmu.’ Isa membuat semua ini mungkin, dengan menawarkan untuk menanggung dosa dan aib kita. Dia membayar hukuman dosa kita melalui kematian-Nya. Kemudian Dia bangkit, mengalahkan kematian dan aib, lalu hidup selamanya dengan kehormatan dan kemuliaan tertinggi. Ketika kita bertobat, mengaku dosa kita kepada Allah, meminta pengampunan-Nya, dan bertekad untuk mengikuti Isa, beberapa mukjizat indah terjadi. Allah menyucikan kita dan menjadikan kita anak-anak-Nya. Dia membebaskan kita dari rasa malu dan rasa bersalah. Dan Dia berbagi kehormatan-Nya yang tak terbatas dengan kita, bersama dengan kasih dan penerimaan-Nya.”
Wajah Eka berseri-seri. “Saya selalu merasa kotor, bernoda dan cemar. Saya tidak pernah merasa layak mendapat kasih dan pertolongan Allah. Bagaimana saya bisa menolak hadiah yang begitu indah itu?”