Mematahkan Pola Pikiran “Saya Tak Berdaya”

 

Penyembahan / Pengucapan Syukur

 

 

Firman Tuhan

Ayat Hafalan: “Segala keadaan dapat kuatasi karena Tuhanlah yang menguatkan aku.” Filipi 4:13

 

 

Pendahuluan

Banyak orang menganggap diri sebagai “korban.” Pola pikirannya seperti ini:

  1. Saya tak berdaya.
  2. Saya tidak bisa berbuat apa-apa.
  3. Saya tidak berpendidikan.
  4. Saya buta huruf.
  5. Saya miskin.
  6. Saya bodoh.
  7. Ini sudah nasib saya.
  8. Saya tidak bisa berubah.
  9. Tubuh dan mental saya lemah.
  10. Saya bercacat.
  11. Saya terlalu tua.
  12. Saya takut gagal. Lebih baik tidak mencoba.
  13. Saya kurang percaya.
  14. Saya tidak punya kesempatan.
  15. Dia menganggap dirinya paling hina.

Di dalam Isa Al Masih orang bisa berubah.

Pembacaan: Yahya 5:2-9

2 Di Yerusalem, dekat gerbang domba, ada sebuah kolam yang dalam bahasa Ibrani disebut Baitesda. Kolam itu memiliki lima serambi,

3 dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit. Ada yang buta, yang timpang, dan yang lumpuh.

5 Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya menderita sakit.

6 Isa melihat orang itu berbaring dan Ia pun tahu bahwa orang itu sudah lama berada dalam keadaan begitu. Lalu, sabda-Nya, “Maukah engkau disembuhkan?”

7 Jawab orang sakit itu, “Tuan, tidak ada orang yang dapat (membantu) aku.”

8 Sabda Isa kepadanya, “Bangun, angkatlah alas tidurmu dan berjalanlah.”

9 Pada saat itu juga sembuhlah orang itu, lalu ia mengangkat alas tidurnya dan berjalan.

Hati Nurani yang Murni

  • KPR 24:16: “Oleh karena itu, hamba selalu berusaha hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah maupun di hadapan manusia.”
  • Hikmah Sulaiman 28:13: “Orang yang menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakui dan meninggalkannya akan mendapat rahmat.”
  • 1 Yahya 1:9: “Jikalau kita mengakui dosa-dosa kita, maka Allah, yang dapat dipercaya dan benar itu, akan mengampuni dosa-dosa kita serta menyucikan kita dari semua kejahatan.”
  • Yakobus 5:16: “Sebab itu, hendaklah kamu saling mengakui dosamu dan saling mendoakan supaya kamu disembuhkan…”

 

Tinjauan

  1. Perubahan harus dimulai dari pola pikir: dari “Saya tak berdaya” menjadi “Saya bisa.”
  2. Bersama Tuhan tidak ada yang mustahil.
  3. Mentor rohani harus menanam pengharapan kepada orang yang dibina.
  4. Orang harus ingin berubah – keinginan disertai kemauan berkorban.
  5. Berhenti menyalahkan orang lain atau situasi.
  6. Berhenti memberi alasan untuk tidak berubah.
  7. Harus aktif mengambil inisiatif, bukan pasif.
  8. Hidup bersih dan sungguh-sungguh di hadapan Tuhan.
  9. Bersikap terbuka dan jujur di hadapan manusia.
  10. Terbuka dan jujur dengan mentor rohani.

 

 

Pembahasan

  • Apa yang dipelajari tentang “mematahkan pola pikir, ‘Saya tak berdaya’?”
  • Bagaimana kebenaran “Tidak ada yang mustahil dalam Tuhan” menolong seseorang mematahkan pola pikir ini?
  • Apakah ada ciri-ciri lain dari orang yang merasa “korban” selain yang disebutkan?
  • Mengapa penting hidup bersih di hadapan Allah dan manusia?
  • Pernahkah mengenal orang yang tidak sungguh-sungguh ingin berubah?
  • Apakah saudara setuju bahwa jangan menyalahkan orang lain/situasi?
  • Mengapa penting keterbukaan kepada mentor rohani?
  • Bagaimana menjawab orang yang berkata, “Ini sudah nasib saya”?

Penerapan

  • Saya akan… (aplikasi pribadi dari ayat-ayat ini)
  • Saya akan… (aplikasi untuk menolong orang lain)